PESONA KELEMBUTAN DALAM ISLAM
PESONA KELEMBUTAN ISLAM
Diantara akhlaq Nabi SAW, yang paling menonjol, beliau adalah pribadi yang lemah –lembut. Kesaksian semua orang yang pernah semasa dengan beliau, menggambarkan bahwa Beliau tidak pernah berkata kasar, tidak pernah mengumpat dan tidak pernah berlaku bengis, bahkan tidak pernah marah, kecuali terhadap perbuatan yang melanggar kehormatan agama.
Dalam ungkapan yang singkat, Dr. Yusuf Alqardhawi mengatakan ; “ Barang siapa yang membaca Sunnah Rasul SAW, baik dalam perkataan maupun perbuatan, maka akan menemukan pancaran kelemah lembutan dalam berdakwah dan interaksi sehari – hari.”
Hadirin Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah
Ada beberapa hikmah yang bisa kita peroleh dari perangai lemah lembut, seperti telah dicontohkan oleh Nabi SAW. Yaitu diantaranya :
Pertama :
Kelemah lembutan bisa membuat kita menjadi pribadi yang indah. Secara garis besar, Allah SWT mengkaruniakan dua keindahan kepada manusia : Keindahan fisik dan keindahan kepribadian. Manusia pada umumnya mudah terpukau oleh keindahan fisik, namun keindahan fisik ini akan segera kehilangan kesan bila tingkah laku dan kata – katanya kasar. Di sinilah kelemah lembutan menjadi kunci untuk mewujudkan pribadi yang indah. Nabi SAW bersabda yang artinya :
“ Sesungguhnya Allah memberi ( keutamaan ) kepada kelemah lembutan, yang tidak diberikannya kepada kekerasan, dan tidak juga diberikan-Nya kepada (sifat – sifat) yang lain.”(HR.Muslim dari ‘Aisyah.r.a )
Kedua :
Kelemah lembutan bisa membentuk orang – orang dan lingkungan disekitar kita. Banyak Sahabat. Radiallahu anhum yang memperoleh hidayah (masuk Islam) setelah menyaksikan Pribadi Nabi. SAW, yang lemah lembut. Salah satunya : Tsumamah bin Atsal. r.a. Suatu hari, Tsumamah yang masih musrik tertangkap dalam sebuah peperangan melawan kaum muslimin. Ketika Nabi .SAW menjenguk para tawanan, Beliau sempat bertanya kepada Tsumamah, “ Apa yang ingin engkau katakan wahai Tsumamah?”. Tsumamah menjawab, “ Jika engkau hendak membunuhku, hai Muhammad, sesungguhnya engkau membunuh seseorang yang memiliki pengaruh yang kuat. Jika mau berbuat baik kepadaku maka engkau berbuat baik kepada orang yang tahu berterima kasih. Dan jika kau ingin harta tebusan, sebutkan saja berapapun jumlahnya, pasti akan aku bayar.”
Namun Nabi SAW tidak memerintahkan untuk membunuh Tsumamah, atau meminta tebusan daripadanya malah mengingatkan kepada para sahabat agar merawat Tsumamah dan tawanan lainnya dengan baik. Demikianlah, sampai tiga kali kesempatan Nabi. SAW menanyakan hal yang sama kepada Tsumamah, ia terus menantang untuk dibunuh saja atau membayar tebusan dalam jumlah yang besar.
Hadirin Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah
Setelah tawanan tersebut dirawat hingga pulih kondisi mereka mereka minta dibunuh atau dimintai uang tebusan, Nabi SAW dengan senyum yang indah menjawab permintaan mereka dengan membebaskan mereka tanpa syarat dan menyuruh mereka untuk kembali kepada keluarga mereka masing – masing. Tsumamahpun beserta teman – temannya beranjak meninggalkan Nabi dan para sahabat. Namun tak lama berselang, ia kembali menghadap Nabi. SAW, mengikrarkan keislamannya, lalu ia berkata “ Sungguh wahai Rasulullah, sebelum ini tiada orang yang paling saya benci di dunia selain anda, tapi sekarang anda menjadi orang yang paling saya cintai di dunia ini.” (HR.Bukhari dan Muslim).
Ketiga :
Kelemah lembutan adalah pelindung hati dari noda dan penyakit kalbu. Yang perlu disadari, ketika kita berkata kasar dan mengumpat, sebenarnya kita tidak sedang merugikan orang lain, tapi terlebih lagi kita sedang menodai hati kita sendiri, mengotorinya dengan kekasaran, serta membuatnya menjadi keras.
Hadirin jama’ah jum’at yang dimuliakan Allah
Suatu ketika, Nabi SAW tengah duduk bersama Aisyah. R.a, lalu melintaslah sekelompok orang Yahudi dihadapan beliau, tiba – tiba mereka menyapa Nabi. SAW dengan melesetkan ungkapan Assalamu’alaikum menjadi Assamu ‘alaika, kebinasaan atasmu hai Muhammad. Aisyah naik pitam dan balik memaki mereka namun Nabi. SAW segera menenangkannya dan memintanya agar tidak mengotori mulut dan hatinya dengan kekasaran dan kebencian, lalu beliau memberikan alasan : “ Sesungguhnya Allah SWT lembut, dan menyukai kelemah lembutan dalam segala hal.” ( HR.al Bukhari).
Lemah lembut dalam tuturkata, lemah lembut dalam canda, serta lemah lembut dalam tingkah laku ternyata merupakan salah satu keteladanan yang paling menonjol dalam diri Rasulullah. SAW. Dan saat ini dalam keseharian kita, baik dalam lingkup kehidupan sosial yang paling kecil hingga yang paling besar betapa kita menghajatkan keteladanan ini demi terus menjaga keseimbangan sosial yang kita miliki, Rasulullah merupakan contoh teladan yang paling sempurna sebagai mana firman Allah :
Yang Artinya :
Sesungguhnya sungguh telah ada pada diri Rasul contoh teladan yang baik bagimu, yaitu orang – orang yang mengharapkan keridhaan Allah. (QS.Al Ahzab; 21)
Hadirin yang dimuliakan Allah
Kelemah lembutan bukan indikasi ketidak berdayaan, tetapi merupakan tanda kemampuan untuk mengendalikan diri. Sebaliknya, kekasaran bukan tanda kekuasaan, namun tanda kerapuhan emosional dan kelemahan pengendalian diri dan merupakan kelemahan kepribadian.
DIarsipkan di bawah: KHUTBAH JUM'AT










